top of page

Global Town Hall 2025: Dunia Masuk Zona "Overshoot" 1.5°C, Apa Kabar Janji Iklim?

  • fpcindonesia
  • Jan 15
  • 3 min read




Global Town Hall 2025: World Enters 1.5°C "Overshoot" Zone, What Happens to Nationally Determined Contribution (NDC)?
FPCI menggelar Global Town Hall 2025 bertajuk “Winning Humanity’s Greatest Battle: Building a Strategic North-South-East-West Grand Alliance for the Climate Future We Need” pada 15 November 2025.

Forum Global Town Hall 2025 bertajuk “Winning Humanity’s Greatest Battle: Building a Strategic North-South-East-West Grand Alliance for the Climate Future We Need” yang diadakan FPCI pada 15 November 2025 mengeluarkan peringatan keras: dunia telah memasuki era overshoot, di mana batas aman pemanasan global 1.5°C bukan lagi target di masa depan, melainkan realitas yang sudah dirasakan secara tidak adil hari ini.


Dr. Arunabha Ghosh, Kepala Eksekutif Council on Energy, Environment and Water (CEEW), membuka diskusi dengan pernyataan tegas: “Krisis iklim kini menjadi kenyataan yang dialami, bukan ancaman di masa depan. Krisis telah tiba secara dari yang diperkirakan.” Ia mencontohkan peristiwa ekstrem dari Chennai hingga Karibia sebagai bukti bahwa krisis datang lebih cepat, sementara peta politik global berubah dengan keluarnya negara emitor besar dari komitmen iklim.

Forum sepakat bahwa esensi masalah telah bergeser dari isu lingkungan menjadi krisis kepercayaan, keadilan, dan kekuasaan yang memerlukan aliansi global baru yang revolusioner.


Kumi Naidoo, Presiden Perjanjian Non-Proliferasi Bahan Bakar Fosil, menyatakan bahwa pertempuran iklim tidak bisa dimenangkan hanya dengan komunikasi sains. “Orang tidak tergerak oleh data atau jargon; mereka tergerak oleh hati, budaya, seni, dan ‘artivisme’,” ujarnya. Titik awal yang jujur, menurutnya, adalah mengakui bahwa dunia gagal, tetapi kecerdasan dan kreativitas manusia masih bisa mengubah krisis menjadi peluang melalui mobilisasi besar-besaran.


Meski komitmen terhadap Perjanjian Paris masih kuat—ditandai dengan lebih dari 185 pemerintah yang bersiap untuk COP30—kepercayaan antara Global North dan Global South tetap rapuh. Lola Vallejo, Direktur Diplomasi European Climate Foundation, menyatakan Eropa berusaha memulihkan kepercayaan melalui kredibilitas implementasi, dengan Uni Eropa berada di jalur tepat memenuhi target pengurangan emisi 55% pada 2030 dan telah mengajukan NDC baru 66-72% untuk 2035.


Namun, suara dari Global South tegas: “Ambisi bukan lagi masalah utamanya. Ujian sesungguhnya adalah implementasi yang kredibel.” Kesenjangan pendanaan, akses teknologi, dan beban utang yang menghambat kapasitas adaptasi negara berkembang menjadi titik kritis yang belum terjawab.


Isu penghapusan bahan bakar fosil memunculkan ketegangan paling tajam. Kumi Naidoo menyerukan konsensus global bahwa “tidak ada investasi bahan bakar fosil baru yang masuk akal”, dengan momentum yang didorong oleh kota, negara bagian, dan lembaga keagamaan. Ia juga menyoroti peran pengadilan, seperti putusan Mahkamah Internasional (ICJ), yang semakin menegakkan akuntabilitas hukum atas kerusakan iklim.


Di sisi lain, banyak negara berkembang menekankan prinsip keadilan: “Tuntutan transisi cepat tanpa dukungan yang adil adalah tidak masuk akal.” Mereka menuntut jaminan pendanaan terjangkau dan alih teknologi sebelum dapat berkomitmen pada kecepatan transisi yang diminta Global Utara.


Keluhan utama Global Selatan adalah sistem keuangan global yang justru menghukum negara-negara paling rentan. Bencana iklim menurunkan peringkat kredit dan meningkatkan biaya utang, menciptakan “ketidakadilan ganda”. Forum mendesak reformasi mendasar: aturan utang yang adil, skema pajak internasional baru, dan perlindungan dari gugatan investor yang menghambat transisi energi.


Lola Vallejo mengakui perlunya pendanaan adaptasi yang lebih besar dan kemitraan global yang kuat, namun desakan untuk perubahan struktural paling keras datang dari negara-negara yang merasakan langsung dampak sistemik ini.


Jendela Waktu Menyempit, Aksi Kolektif adalah Satu-Satunya Jalan

Forum Global Town Hall 2025 menutup diskusi dengan pesan yang realistis namun mendesak: sistem iklim global masih berdiri, tetapi waktu untuk aksi tambal-sulam telah habis. Dunia membutuhkan aliansi strategis Utara-Selatan-Timur-Barat yang nyata, dibangun di atas pilar implementasi, transisi energi yang berkeadilan, reformasi keuangan, dan penempatan komunitas sebagai pusat aksi.


Kepercayaan hanya akan pulih secepat implementasi berjalan. Kepemimpinan iklim berikutnya akan ditentukan bukan oleh janji baru, melainkan oleh kemampuan bertindak bersama—dengan cepat, kredibel, dan adil—selagi jendela untuk masa depan yang layak huni masih terbuka.

 
 
 
Logo Climate Unit 2.png

© 2021-2025 Foreign Policy Community of Indonesia

Sekretariat FPCI

Mayapada Tower 1, 19th Floor, Unit 02

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, Jakarta 12920

  • YouTube
  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram
bottom of page