Indonesia Net-Zero Summit 2025: Titik Temu Aspirasi dan Aksi Nyata Menuju Indonesia Hijau
- fpcindonesia
- Jan 14
- 3 min read
Momen kebersamaan terbesar masyarakat sipil, pemuda, pemerintah, dan sektor swasta dalam mendorong transisi energi bersih dan aksi iklim yang lebih ambisius.

Pada Sabtu, 26 Juli 2025 di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, telah diselenggarakan Indonesia Net-Zero Summit (INZS), konferensi iklim tahunan yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). Konferensi ini dirancang sebagai ruang pertemuan bersama bagi para pejabat pemerintah, think tank, diplomat, aktivis, pelaku usaha, akademisi, media, pelajar, selebritas, masyarakat umum, dan berbagai kalangan lainnya untuk membahas isu-isu iklim, khususnya di Indonesia.
INZS kembali hadir dengan semangat baru: menjadi titik temu utama untuk menerjemahkan aspirasi iklim menjadi kebijakan net-zero yang efektif serta inisiatif berkelanjutan yang berdampak nyata, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat Indonesia.
“Kita berada di tengah-tengah perang dunia yang hebat. Musuhnya bukanlah seperti yang Anda pikirkan. Bukan negara. Bukan ideologi. Bukan rezim. Musuhnya disebut perubahan iklim: Climate Thanos,” ungkap Dr. Dino Patti Djalal, Pendiri dan Ketua FPCI.
“Topan, badai, banjir, hujan, kebakaran, pasang surut air, polusi, dan banyak lagi. Dan orang ini tidak mengenal istilah gencatan senjata. Dan dia menyerang kita setiap hari, setiap jam, setiap menit, 24 jam sehari, 365 hari setahun. Anda tahu, Perang Dunia I berlangsung selama empat tahun, Perang Dunia II berlangsung selama enam tahun, tetapi Climate Thanos telah menyerang kita sejak tahun 1820 ketika revolusi industri dimulai. Dan dia dapat menipu kita, menyihir kita, menghipnotis kita untuk percaya bahwa dia bukan ancaman, bahwa dia bukan bahaya. Namun jangan salah paham, tujuannya sangat jelas. Tujuannya adalah untuk melakukan penghancuran massal di panggung global melalui peningkatan suhu dunia tiga atau empat derajat,” papar Dr. Dino Patti Djalal.

Di sisi lain, Simon Stiell selaku Sekretaris Eksekutif Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) mengatakan bahwa aksi iklim adalah sebuah peluang, bukan harga dari kemajuan, tetapi jalan menuju kemajuan. Jalan itu tidak pernah lurus. Hingga saat ini, bahan bakar fosil masih memasok lebih dari tiga perempat energi Indonesia untuk listrik dan transportasi.
“Ini masih jauh dari apa yang dikatakan sains sebagai kebutuhan untuk masa depan dengan kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius,” ucap Simon Stiell.
Menurut Simon Stiell, langkah-langkah selanjutnya yang telah Indonesia ambil untuk dipetakan oleh rencana iklim nasional Anda berikutnya dapat mengubah segalanya. “Jika dilakukan dengan benar dan tepat waktu, dengan komitmen yang berani dan ambisius, NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia berikutnya dapat menjadi cetak biru untuk masa depan Indonesia yang mencapai nol emisi karbon. Masa depan bagi lebih dari 270 juta orang di mana pertumbuhan ramah lingkungan, pembangunan inklusif, dan kemakmuran dinikmati oleh semua.”
“Di mana lebih banyak investasi, maka lebih banyak lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dapat diwujudkan dan dinikmati secara luas oleh semua. Mempercepat transisi energi yang adil dan bersih di Indonesia akan menciptakan sejumlah besar lapangan kerja baru dan menarik miliaran investasi baru. Dan tanda-tanda vitalnya sangat menggembirakan. Khusus di bidang energi terbarukan, kapasitas Anda telah meningkat sebesar 40% sejak tahun 2019, dengan hampir 1.000 megawatt ditambahkan tahun ini saja,” ungkap Simon Stiell.
Adapun INZS 2025 menegaskan bahwa net-zero bukan hanya tujuan lingkungan, melainkan strategi pembangunan nasional.
Dengan sumber daya yang dimiliki dan peran geopolitik sebagai middle power, Indonesia dapat menjadikan aksi iklim sebagai penggerak pertumbuhan, daya saing, dan ketahanan. Optimisme konstruktif, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen 1.5°C adalah kunci menuju Indonesia yang hijau, tangguh, dan sejahtera.
Dengan kehadiran ribuan peserta dan dukungan pimpinan UNFCCC, INZS menegaskan bahwa komitmen 1.5°C bukan sekadar target global, tetapi arah strategis pembangunan Indonesia untuk masa depan yang berdaulat, adil, dan sejahtera.
