Melampaui Narasi Tunggal: Strategi Middle Power Meretas Jalan Baru Menuju Net-Zero
- Jan 12
- 2 min read
Transisi energi global tidak lagi diasosiasikan sebagai upaya dari negara maju saja; negara-negara middle power kini memimpin dengan strategi kontekstual yang meretas jalan inklusif menuju net-zero.

Di tengah vakum kepemimpinan global akibat penarikan diri Amerika Serikat dari Perjanjian Paris, negara-negara middle power (kekuatan menengah) tampil ke depan sebagai arsitek dan penggerak utama aksi iklim. Pesan tersebut mengemuka dalam panel bertajuk ”Middle Powers Rising! How Countries Turn Climate Action into Growth Engines in the 21st Century” pada Indonesia Net-Zero Summit 2025 yang berlangsung pada 26 Juli 2025 di Djakarta Theater, Jakarta.
Sebagai informasi, middle power adalah istilah untuk menyebut negara dalam spektrum kekuatan internasional di posisi tengah dan berada di bawah negara Adidaya. Negara yang menggunakan pengaruh diplomatik, ekonomi, dan normatifnya untuk mempengaruhi tata kelola global, seringkali sebagai kekuatan penyeimbang atau pemecah kebuntuan, tanpa memiliki sumber daya militer atau ekonomi sebesar negara adidaya.
Contoh negara middle power adalah Indonesia, Australia, Kanada, Korea Selatan, Meksiko, Turki, Brasil, dan Afrika Selatan. Swedia, Norwegia, Swiss, Nigeria, dan Uni Emirat Arab juga sering dikategorikan sebagai middle power berdasarkan peran dan strategi diplomatik mereka.
Moderator Dr. Dino Patti Djalal membuka diskusi dengan menegaskan bahwa panggung kepemimpinan iklim kini terbuka. “Penarikan diri AS merupakan hal besar... Siapa yang akan memimpin setelah salah satu pemain terbesar telah menarik diri? Jawabannya adalah kekuatan menengah,” ujarnya. Ia mendefinisikan middle power sebagai negara yang bukan adidaya, tetapi memiliki pengaruh, ukuran, dan ambisi untuk berperan aktif secara global, seperti Brasil, Afrika Selatan, Turki, Australia, dan Indonesia.
Fokus panel kemudian bergeser pada strategi konkret yang dirancang negara-negara tersebut untuk menyelaraskan pertumbuhan ekonomi tinggi dengan target net-zero.

Berdasarkan diskusi panel yang menghadirkan perwakilan dari Indonesia, Brasil, Afrika Selatan, Australia, dan Turki, dapat disimpulkan bahwa dukungan yang harus diberikan oleh negara middle power untuk transisi energi meliputi beberapa pilar strategis berikut:
1. Membangun Strategi Hijau yang Kontekstual dan Holistik
2. Mendesain Mekanisme Pendanaan dan Investasi yang Kredibel
3. Memastikan Transisi yang Adil dan Inklusif
4. Memperkuat Kepemimpinan dan Kolaborasi Internasional
5. Melakukan Reformasi Kebijakan dan Kelembagaan yang Mendasar
6. Mengelola Dinamika Politik dan Tekanan Eksternal
Sebagai kesimpulan, negara middle power tidak boleh menjadi penonton atau sekadar pengikut dalam transisi energi global. Mereka memiliki kapasitas, pengaruh regional, dan kebutuhan yang unik untuk menjadi arsitek dan penggerak utama. Kunci suksesnya terletak pada strategi yang berani, kontekstual, adil, dan didukung oleh kepemimpinan politik yang kuat serta kolaborasi internasional yang setara. Mereka dapat "menulis simfoni baru" untuk pertumbuhan hijau, sebagaimana metafora yang digunakan perwakilan Brasil.
Diskusi ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dalam tata kelola iklim global. Narasi bahwa transisi hijau hanya bisa dipimpin oleh negara-negara maju (Barat) secara perlahan dipatahkan. Negara-negara middle power dengan karakteristik dan kebutuhan yang unik justru menunjukkan kepemimpinan.
