UNFCCC Serukan "Gotong Royong Global", Dukung Indonesia Jadi Pemimpin Transisi Energi Bersih
- fpcindonesia
- Jan 12
- 2 min read
Dalam kunjungan resminya, Simon Stiell menyatakan kesiapan UNFCCC menjadi mitra strategis Indonesia guna mewujudkan ambisi net-zero 2050 dan memimpin transisi energi berkeadilan di kawasan dan dunia.

Simon Stiell, Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), menyerukan semangat gotong royong dan menegaskan dukungan penuh lembaganya bagi Indonesia dalam transisi energi bersih. Seruan ini disampaikan dalam pidato kuncinya di Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2025 yang diselenggarakan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada 26 Juli 2025 di Djakarta Theatre, Jakarta Pusat.
Adapun kunjungan kerja Stiell ke Indonesia berfokus pada mendorong peningkatan komitmen iklim nasional, terutama melalui Nationally Determined Contribution (NDC) kedua yang lebih ambisius, selaras dengan target mencapai net-zero emission pada 2050 atau lebih cepat.
Peluang, Bukan Pengorbanan
Dalam pidatonya, Stiell membongkar narasi bahwa aksi iklim tidak menghambat pembangunan. "Ambisi iklim dan pembangunan ekonomi bukanlah prioritas yang bersaing. Keduanya adalah dua sisi yang sama," tegasnya. Ia menyatakan aksi iklim sebagai sebuah peluang untuk menciptakan lapangan kerja, menarik investasi, dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
"Mempercepat transisi energi yang adil dan bersih di Indonesia akan menciptakan lapangan kerja baru dalam jumlah besar dan menarik investasi baru senilai miliaran dolar," ujar Stiell, seraya mengapresiasi peningkatan 40% kapasitas energi terbarukan Indonesia sejak 2019.
NDC Kedua sebagai Cetak Biru Masa Depan
Stiell menekankan bahwa NDC kedua Indonesia yang sedang disusun dapat menjadi "cetak biru untuk masa depan net-zero Indonesia". Namun, ia mengingatkan bahwa jalan menuju target 1,5°C masih panjang. "Hingga saat ini, bahan bakar fosil masih memasok lebih dari tiga perempat energi Indonesia. Ini masih jauh dari apa yang dikatakan sains," katanya.
Keyakinannya terhadap kepemimpinan Indonesia tetap kuat. "Anda memiliki bakat, sumber daya, dan momentum tidak hanya untuk memimpin di Asia Tenggara tetapi juga untuk membantu membentuk masa depan energi bersih dunia," tambahnya. Ia secara khusus menyoroti komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat net-zero dan sistem perdagangan karbon nasional (carbon trading) sebagai langkah nyata.
Dukungan Konkret UNFCCC dan Seruan Gotong Royong
Stiell juga menegaskan kesiapan UNFCCC sebagai mitra setia Indonesia. "Tim saya siap. Bersama-sama, kami di sini untuk bekerja bersama Anda dalam merancang, mengimplementasikan, dan mewujudkan visi Indonesia yang berkelanjutan," janjinya, termasuk dukungan dalam memanfaatkan mekanisme pasar karbon global.
Di akhir pidato, ia mengajak semua pihak untuk bergotong royong menghadapi dekade penentu ini. "Keberhasilan Indonesia bukan hanya kemenangan nasional. Ini adalah contoh yang dapat diikuti orang lain," pungkas Stiell.
Dukungan Multistakeholder untuk Target yang Lebih Ambisius
Momentum dari pidato tersebut diperkuat dengan peluncuran Pernyataan Bersama oleh FPCI Climate Unit dan seluruh mitra INZS 2025. Pernyataan itu mendesak pemerintah untuk:
Menetapkan target net-zero 2050 secara resmi
Memastikan NDC Kedua benar-benar selaras dengan jalur 1,5°C
Pernyataan ini menegaskan bahwa net-zero harus menjadi visi kolektif seluruh bangsa dan bagian integral dari agenda pembangunan nasional, sekaligus menjadi sumber kebanggaan Indonesia di panggung dunia.
“Ini adalah pertempuran terpenting dalam sejarah manusia. Warisan Presiden Prabowo seharusnya adalah Presiden yang memiliki iklim nol bersih. Saya yakin kita masih bisa membalikkan keadaan, terlepas dari semua kerugian yang kita alami. Setiap negara memiliki kewajiban hukum untuk memastikan kita tidak terjerumus lebih dalam ke dalam bencana iklim,” ungkap Dr. Dino Patti Djalal, Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI).


