top of page

11:30 - 12:45 WIB | Miangas 1 Room
Kekayaan alam Indonesia kini menjadi bagian penting dari strategi ketahanan ekonomi nasional, bukan hanya sebagai agenda konservasi. Bappenas memperkirakan kerugian akibat perubahan iklim dapat naik hampir 4x lipat, dari Rp469 triliun (2025) menjadi Rp2.005 triliun (2029), jika risiko iklim tidak dikelola. Dengan 3,36 juta hektar hutan mangrove (20% total dunia) dan separuh lahan gambut tropis dunia, Indonesia memiliki modal alam besar untuk membangun ekonomi restoratif; model yang memulihkan ekosistem sekaligus menarik investasi jangka panjang, didukung momentum kebijakan seperti Perpres No. 110/2025 dan penerbitan lebih dari 30 juta ton CO₂e kredit karbon kehutanan pada Juli 2026. Sesi ini membahas bagaimana Indonesia dapat menjadikan Nature-based Solutions sebagai strategi pembangunan nasional, beralih dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi yang menciptakan nilai melalui restorasi alam.
Indonesia's natural wealth is increasingly seen as a pillar of national economic resilience, not just a conservation agenda. Bappenas projects that climate change losses could nearly quadruple, from around Rp469 trillion (2025) to Rp2,005 trillion (2029), if climate risks go unmanaged. With 3.36 million hectares of mangrove forest (20% of the global total) and half of the world's tropical peatlands, Indonesia holds vast natural capital to build a restorative economy — one that regenerates ecosystems while attracting long-term investment, backed by policy momentum such as Presidential Regulation No. 110/2025 and the issuance of over 30 million tCO₂e in forestry carbon credits in July 2026. This session explores how Indonesia can position Nature-based Solutions as a national development strategy, shifting from an extractive economy to one that creates value through nature restoration.
Panelist and Moderator
bottom of page






