Kolaborasi FPCI-E3G di MSC 2026: Ketika Ancaman Iklim Menjadi Isu Keamanan Nasional di Indo-Pasifik
- Feb 26
- 2 min read
Updated: Feb 27

Di sela-sela Munich Security Conference (MSC) 2026, Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) bersama E3G, dua lembaga think tank internasional, sukses menggelar MSC Climate Security Breakfast bertajuk "Rising Tides: Climate and Security in the Indo-Pacific." Acara yang berlangsung di Bibliothek/Library, Hotel Bayerischer Hof, Munich, Jerman ini mempertemukan sekitar 15 perwakilan senior dan pemikir terkemuka dari negara-negara G20 dan negara-negara Kepulauan Pasifik.
Diskusi ini mengkaji bagaimana keamanan iklim (climate security) dipahami dan dibingkai oleh berbagai aktor—khususnya dalam G7, G20, dan BRICS+—serta bagaimana konsep tersebut dapat diartikulasikan dengan cara yang dapat diterima baik oleh negara maju maupun negara berkembang. Diskusi ini mengeksplorasi apa saja yang diperlukan untuk menyeimbangkan prioritas iklim, keamanan iklim, dan keamanan tradisional, termasuk dalam hal alokasi sumber daya, serta menyoroti model-model yang sudah ada dan praktik terbaik, serta implikasinya bagi kemitraan regional.
Peserta yang hadir mencakup para anggota parlemen, pembuat kebijakan senior yang menangani kebijakan luar negeri perubahan iklim dan keamanan nasional, serta para pakar kebijakan terkemuka.
Dalam diskusi tersebut, para peserta menggunakan definisi PBB untuk Climate Security (Keamanan Iklim) – meskipun definisi berbeda-beda di setiap pemerintah dan kawasan – yakni "dampak krisis iklim terhadap perdamaian dan keamanan, terutama di daerah-daerah yang rapuh dan terkena dampak konflik."
Dengan menggunakan definisi luas ini, E3G dan FPCI menemukan 70 negara dan Organisasi Internasional (AU, EU, PIF, NATO) yang telah merilis strategi keamanan iklim atau memasukkan bahasa tersebut ke dalam NDC (Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional), kerangka kerja iklim, atau kerangka keamanan nasional mereka. Banyak di antaranya yang telah mengintegrasikan bahasa keamanan iklim ke dalam berbagai dokumen; kami menemukan 55 kasus seperti itu.
Untuk diketahui, baru-baru ini Inggris merilis sebuah laporan yang menemukan bahwa dampak iklim mengancam "keamanan nasional dan kemakmuran Inggris [dan global]," dan Forum Kepulauan Pasifik yang beranggotakan 18 negara menyebut perubahan iklim sebagai "ancaman tunggal terbesar terhadap keamanan Pasifik."
Adapun para peserta membahas secara mendalam bagaimana berbagai negara mengoperasionalkan kerangka keamanan iklim, praktik terbaik yang telah berhasil diterapkan, serta pelajaran yang dapat diadopsi dan diskalakan di berbagai kawasan.
Sebagai informasi, diskusi ini merupakan kelanjutan dari dialog tingkat tinggi tahun lalu yang berfokus pada kerangka kerja keamanan iklim yang diselenggarakan oleh E3G di sela-sela Munich Security Conference (MSC) 2025. Dengan latar belakang meningkatnya dampak perubahan iklim dan kompetisi geopolitik yang semakin intensif di kawasan Indo-Pasifik, risiko iklim kini secara nyata membentuk kebijakan keamanan nasional, politik luar negeri, dan stabilitas regional.
