top of page

Mengawal Visi Prabowo: Indonesia Solar Economy Dialogue (ISED) ke-2 Kumpulkan Para Ahli untuk Menyelesaikan Rekomendasi Praktis 100 GW PLTS

  • Feb 2
  • 3 min read


Menyusul kesuksesan pertemuan pembuka (Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED) yang diinisiasi oleh FPCI Climate Unit pada November 2025, acara lanjutan digelar pada Jumat 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.


Pertemuan lanjutan ini dirancang untuk mentransformasi visi besar menjadi cetak biru aksi yang konkret, menyikapi target ambisius Presiden RI untuk mencapai 100% energi terbarukan pada 2035 dengan program 100 GW Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).


Pertemuan kedua ISED ini juga diselenggarakan dengan tujuan utama untuk mengontekstualisasikan dan mempercepat target 100 GW energi surya dalam kerangka kondisi aktual Indonesia dan dunia yang berubah cepat. 


Adapun Inti pertemuan ini adalah menyelesaikan dan memfinalisasi draft rekomendasi kebijakan yang praktis dan berbasis bukti untuk diserahkan kepada pemerintah. Rekomendasi ini berfokus pada empat isu kritis yang telah diidentifikasi dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya perihal:


  • Kesiapan dan interkoneksi jaringan listrik

  • Desain kelembagaan dan tata kelola

  • Model bisnis (seperti koperasi desa)

  • Strategi pembiayaan yang bankable


Sementara itu, misi akhir (Endgame) pertemuan ini adalah mendorong implementasi agar PLTS menjadi fondasi transformasi sistem menuju solar economy, dengan tujuan akhir membuat energi surya menjadi mudah, murah, dan dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. 


Dino Patti Djalal: Bersama Wujudkan Visi Prabowo, Menjawab "How" untuk Realisasi 100 GW PLTS

Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal dalam Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.
Pendiri dan Ketua FPCI, Dino Patti Djalal dalam Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.

Energy transition is the fourth trend yang kita lihat, mempunyai makna yang sangat kritis.


Presiden Prabowo telah menyatakan 100 GW. Solar energy by 2035 is very important dan very  achievable.


I hope we are very firm untuk stay di tujuan yang disampaikan Presiden Prabowo. Kita telah menentukan isu kunci yang kita identifikasi untuk mencapai 100 GW ini. Dan ini juga menjawab keluhan Pak Presiden Prabowo.


Kita ingin membantu secara praktis, secara teknis, konseptual juga untuk menjelmakan apa yang kita dukung dari target beliau (Presiden Prabowo).


Kita ingin membantu mengatakan how to do it, how?


Kita ingin mendukung program 100 GW PLTS sehingga menjadi pondasi untuk transformasi sistem menuju solar ekonomi  ….”


~ Dr. Dino Patti Djalal

Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI)


Dr. Retno Gumilang Dewi: 100 GW: Target Ambisius untuk Indonesia Mandiri Energi

Dr. Retno Gumilang Dewi, Asisten Penasihat Khusus Presiden RI di  Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua yang diadakan FPCI Climate Unit pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.
Dr. Retno Gumilang Dewi, Asisten Penasihat Khusus Presiden RI di Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.

“Ketahanan energi menjadi isu penting termasuk kemandirian energi.


Jadi kalau memang adanya PLTS ini bisa mendukung juga untuk ketahanan dan kemandirian energi di daerah. Bagaimana risiko  jika proyek 100 GW tidak ada?


Implementasi 100 GW butuh waktu berapa lama? Meskipun ambisius tapi ini doable."


~ Dr. Retno Gumilang Dewi

Asisten Penasihat Khusus Presiden, Kantor Eksekutif Presiden Republik Indonesia


Roysepta Abimanyu: Transisi Energi adalah Respons Pragmatis atas Realitas Dunia Saat Ini

Roysepta Abimanyu, Tenaga Ahli Deputi Kementerian Koperasi RI di  Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua yang diadakan FPCI Climate Unit pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.
Roysepta Abimanyu, Tenaga Ahli Deputi Kementerian Koperasi RI di Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.

Transisi energi itu bukan cuma program, tapi imperatif dari situasi dunia yang seperti sekarang. Jadi bukan hanya soal climate, tapi kita bicara geoeconomics, karena energi kita itu mayoritas adalah impor."


~ Roysepta Abimanyu

Tenaga Ahli Deputi, Kementerian Koperasi Republik Indonesia


Trois Dilisusendi: Realisasi Target 100 GW Mustahil Dicapai Satu Kementerian Saja

Trois Dilisusendi, Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI di Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua yang diinisiasi FPCI Climate Unit pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.
Trois Dilisusendi, Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI di Indonesia Solar Economy Dialogue/ISED kedua pada Jumat, 23 Januari 2026 di Hotel The Westin Jakarta.

Make it realistic!


100 GW ini memang adalah program presiden, Asta Cita. 


Program yang masif ini sangat besar benefitnya buat kita, buat Indonesia. Mengurangi subsidi listrik ataupun BBM, termasuk juga mendorong transisi energi dan adanya hilirisasi.


Kami satu-satunya balai besar yang punya Lab Mobile EV. Kami bisa mengetes, mengecek baik baterai untuk mobil ataupun juga baterai PLTS, saya kira lebih simple. Nah transisi itu yang mungkin juga kita sama-sama mengawal, karena program 100 GW. Tidak mungkin hanya satu kementerian, kira-kira kita harus bisa bersama-sama. Bagaimana membuatnya menjadi realistik…”


~ Trois Dilisusendi

Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian KEBTKE, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia

Comments


Logo Climate Unit 2.png

© 2021-2025 Foreign Policy Community of Indonesia

Sekretariat FPCI

Mayapada Tower 1, 19th Floor, Unit 02

Jl. Jenderal Sudirman Kav. 28

South Jakarta, Jakarta 12920

  • YouTube
  • Twitter
  • Facebook
  • Instagram
bottom of page